Chapter 5 : Akhirnya Menikah

Hari demi hari terus berlalu, dan Arenia masih seperti sebelumnya, duduk merenung di dalam kamar padahal hari ini adalah hari pelaksanaan pernikahan. Dengan baju pengantin yang begitu indah, dia duduk menghadap cermin dengan wajah yang muram, menatap bayangannya yang sesperti gadis bodoh di sana. Gaun putih indah yang membentang, kilatan pada mutiara-mutiara yang menghiasi tile-tile luaran, menggambarkan betapa harganya begitu melangit, tapi tidak berarti apa-apa untuk Arenia. “Aku bersumpah, aku tidak akan melihat wajahnya!” Crang! Dia melempar sebuah botol parfum kosong ke cermin saat melihat bayangan dirinya yang menyedihkan. Botol parfum itu pecah berhamburan, menjadi puing-puing tak berarti hingga retakannya terdengar hingga keluar kamar. Lusy, sang sahabat yang mendampingi hanya bisa meletakkan simpati pada Arenia soal pernikahannya dengan putra ketiga Tuan Fulton. Dia tidak menyangka ini benar-benar terjadi. Putra ketiga Tuan Fulton harusnya tidak menikah, mengapa dia menikah bahkan mendahului putra keduanya yang masih lajang? . . . Hari masih begitu pagi, tapi orang-orangnya Tuan Fulton Almero sudah menjemputnya dengan mobil yang keren. Dua orang pria bersetelan jas rapi dengan dasi berwarna senada berdiri dengan wajah sumringah saat menyambut langkah pasrah Arenia yang turun dari rumahnya. Rona keemasan dari gaun yang mengkilap pada butiran-butiran mutiara pada sisi luar gaun menambah pesona yang lebih cantik dari sebelumnya. Araya berdiri di sisi lain rumah. Dia memakai gaun yang sama indah, lalu mengikuti langkah ayah dan Nyonya Rina menuju mobil lainnya. Saat dua orang gadis masuk ke dalam mobil, Arenia menghentikan kakinya, dia melirik pada Araya yang juga akan datang ke pesta pernikahan mengerikan ini. Dia juga menatap ayah dan ibu yang begitu berbunga dengan kabar ini. Dia bahkan melirik para bodyguard pada kiri dan kanan sisi, lalu mendelik sendiri. Ternyata celah untuknya kabur dari pernikahan tidak ada sama sekali. . . Mobil melaju dengan kecepatan yang sedang. Seorang pria berparas rupawan duduk di sebelah supir dan berkata dengan suara yang penuh kesopanan, “Senang sekali, akhirnya Tuan Muda kami akan segera menikahi wanita yang begitu cantik dan anggun seperti Anda.” Arenia seharusnya menertawakan ini, karena “Anggun” adalah kata yang sangat tidak pantas untuknya. Dia bahkan membenci segala hal tentang hari ini dan kecantikannya. Namun, dia malah ingin menangis saat mereka melemparkan senyum padanya. Setelah cukup lama diam, perjalanan itu berakhir pada sebuah bangunan megah tak jauh dari pusat kota. Arenia melirik keluar, pada ayah dan ibu yang baru saja turun dari mobil, disambut oleh begitu banyak orang. Arenia melirik pada sisi lain, dan terkejut saat melihat ada begitu banyak orang yang berdiri di sana. “Bukankah katanya pernikahan ini akan diadakan tertutup?” batinnya terkejut. Nyonya Besar dengan seorang wanita berjalan mendekati mobil mempelai wanita. Tap! Dia membuka pintu, di depan banyak pelayan dia berkata, “Inilah dia menantuku yang jelita. Dia sangat pantas dan cocok bersanding dengan putraku yang sedikit bermasalah.” . . “Ibu macam apa yang seperti menghina putranya sendiri,” bisik salah seorang yang berdiri di sebelah pengantin. . . Kepala Arenia ditutup dengan selendang putih dari sutra, mirip selayar yang menghiasi ruang di kepalanya. . . “Meskipun anak itu disebut monster, sebagai ibu bukankah seharusnya dia tidak mengatakan dengan terang-terangan kalau putranya yang satu itu tidak sehat?” . . Bisikan orang-orang terdengar begitu dekat. Arenia merasa lebih terpukul setelah mendengar ini langsung dari orang-orang di sana. Sangat tidak menyangka bahwa dia memang akan menjadi pengantin untuk pria tidak normal. . . Di dalam gedung tidak terlalu banyak orang, sangat tertutup dan jauh dari wartawan. Orang-orang mengiring langkah Arenia masuk lebih dalam. Dia terus saja menunduk lesu, tidak tertarik untuk melihat sisi mana pun dalam ruangan. Satu menit, dua menit, tiga menit, bahkan hingga hampir satu jam, tak ada yang terjadi, tak ada yang terdengar selain gosip dan gelak tawa orang-orang soal calon suaminya yang dihinakan. . . . “Itu dia. Itu dia!” Arenia mendengar kata-kata ini dengan telinganya sendiri. Apa yang orang-orang itu hebohkan pastilah kedatangan mempelai pria. Dia bertekad tidak akan mengangkat kepalanya, sebelum dia benar-benar keluar dari sana. Drap Drap Drap Langkah ramai terasa semakin mendekat. Arenia bergetar saat melihat pintu utama penuh keramaian. Sayup-sayup dia melihat dengan mata kepala, putra kedua Tuan Almero masuk dengan setelan jas yang rapi. Itulah pria yang sebenarnya Arenia sukai, tapi … pria yang membuatnya menerima takdir, malah datang sebagai tamu undangan. Mata yang tertunduk, terangkat saat Arenia melihat sang pujaan memotretnya dari kejauhan. Tuan Muda Dizon memberikan senyuman pada semua orang, juga pada mempelai wanita yang jatuh cinta padanya. Dizon memandangi Arenia dengan sesuatu yang terasa sangat berbeda. Namun, baru saja Arenia tertipu oleh khayalan semu yang indah, Tuan Besar Almero masuk dari tengah pintu, dia mendorong seorang pria yang sedang duduk di kursi roda. Samar-samar dari balik selayar tipis yang menutupi mata, Arenia melihat calon suaminya benar-benar duduk di kursi roda. Wajah pria itu juga ditutupi sebuah benda mirip topeng yang hanya menyisakan bibir dan hidungnya saja. Semua orang melirik Tuan Muda yang terhina dengan sebelah mata, tapi Arenia menatap calon suaminya dengan mata yang membola lebar. Pria berkursi roda itu tidak dibawa untuk berdiri di sebelahnya, tetapi didorong masuk dalam sebuah sekat yang tertutup, hingga tak ada seorang pun yang bisa melihat rupanya termasuk Arenia sendiri. . . . “Sekarang kalian sudah resmi sebagai pasangan suami-istri.” Entah sejak kapan ini selesai, Arenia sangat merinding ketika kata-kata ini bermuara di segala sisi. Semua orang bertepuk tangan dan memberikan selamat setelah prosesi pernikahan. Arenia mengepal erat tangannya. Bagaimana bisa dia menikah tetapi tidak ada sang suami di sebelahnya? Pernikahan ini malah seperti permainan dan tipuan jika begini. Dia bahkan tidak tahu wajah jelek sang suami seperti apa. . . Tidak ada ciuman hangat, tidak ada sentuhan, pria itu kembali cepat didorong keluar dari ruangan setelah pernikahan terjadi. Arenia merasa seperti orang bodoh yang berdiri sendiri di sana, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Hanya saja, tatapan Dizon yang menghanyutkan dari kejauhan padanya begitu berkesan, hingga membuatnya merasa begitu tenang dalam sekejap. Dari balik selayar pada kepala yang penuh, Arenia mengintip sekali lagi suami yang sedang dibawa pergi. Sepertinya sang suami benar-benar lemah dan bodoh, tangannya saja terkulai begitu. Dan wujudnya juga tidak pernah bisa dilihat oleh banyak orang. Saat yang bersamaan, Arenia melirik pada Araya yang tersenyum licik padanya dari kejauhan, seperti meledeknya dengan tatapan kehinaan. “Mengapa nasibku semalang ini? Aku harus lari. Aku harus lari dari pernikahan ini. Ya, benar. Setelah turun di rumahnya, aku akan kabur dan pergi. Tidak peduli ibu dan ayah akan marah. Araya bisa bebas, mengapa aku tidak bisa?” batinnya. Arenia mengepal erat tangannya hingga tubuhnya merasa begitu lemah. Tapi, akankah Arenia benar-benar bisa kabur dari rumah suaminya nanti?

5/228